
Filed Under :
musik
by Hikma'S bLOgzz

Rabu, 13 April 2011
Dewasa ini, orang bisa dengan mudah memperoleh rekaman musik. Ada banyak lokasi download musik di dunia maya. Sebagian besar tentu ilegal. Begitulah, selalu ada orang yang menaruh sesuatu di sana, dan ada juga orang (bisa jadi termasuk kita) yang berminat mengambilnya dengan cuma-cuma. Entah sekadar mencoba sebelum membeli, atau memang sengaja berniat menyimpan.
Ketiadaan halangan dalam memperoleh hampir apa pun itu membuat keadaan mudah “banjir”. Ini barangkali seperti yang dibayangkan penyanyi asal Inggris Peter Gabriel dalam “Here Comes the Flood”. Meski efeknya bisa sangat berbeda (yakni ketika setiap orang bisa saling membaca pikiran masing-masing), dalam hal ini hanya yang lurus dan terbuka yang bakal bertahan.
Situasinya, paling tidak, membuat saya ingat zaman ketika musik jenis apa pun bisa diperoleh dengan mudah dan murah melalui kaset.
Ini masa sebelum awal 1985, ketika kaset bajakan tak lagi diproduksi di Indonesia akibat kemarahan Bob Geldof (penyelenggara konser Live Aid). Padahal kaset bajakan itulah yang membuat penggemar musik di negeri ini bisa mengikuti perkembangan mutakhir di luar.
Waktu itu, album-album terbaru selain bisa segera diperoleh, juga sangat terjangkau. Pada 1980-an, harga satu kaset hanya Rp 500, sementara harga seharusnya (bila royalti dibayar) adalah Rp 6.000. Sejak pertengahan 1970-an, saya bisa mengenal Genesis, Pink Floyd, Rush, Yes, dan lain-lain. Bahkan grup-grup yang tak terkenal sekalipun…

Kini, dengan minat yang luas, alangkah sulitnya untuk bisa selalu up-to-date. Pertama, masalahnya terletak pada ketersediaan album di toko lokal. Di toko tertentu, memang ada album luar negeri produksi mainstream. Atau, ada pula yang dirilis label besar, tetapi di sini tak banyak peminatnya (sehingga perpanjangan label itu tak mau mencetaknya di sini). Artinya, ya beruntung saja kalau kebetulan menjumpai yang dicari.
Tetapi bagi sebagian orang, persoalan lainnya terletak pada harga. CD impor sering kali baru bisa dibawa pulang dengan harga sekurang-kurangnya dua kali lipat harga produksi dalam negeri. Mereka yang tergolong mampu pun, pada akhirnya, akan memilih-milih dalam membeli.
Penggemar musik di era sekarang yang hanya bisa mengikuti perkembangan melalui toko setempat, siapa pun orangnya, dijamin akan “kuper”. Sebab pilihannya sangat terbatas — dibandingkan dengan jumlah CD dengan aneka jenis musik yang diproduksi pada suatu saat.
Orang memang bisa memperoleh informasi mutakhir mengenai musisi atau band (layaknya dulu orang mengenal musisi atau band dari majalah Aktuil), tapi ya hanya sampai di situ. Radio? Sangat tidak membantu. Daftar lagu di radio (di tengah acara bincang-bincang yang sering membosankan), umumnya adalah Top 40, kalau bukan rilisan baru.
Di luar pergaulan, di situlah “kepustakaan” di dunia maya membantu. Di luar aneka peluang gratisan (yang ilegal), sebenarnya kita bisa menguji apakah musik seorang musisi atau band baru cocok dengan selera atau tidak.
Caranya melalui mendengarkan lagu-lagu contoh. Ini bisa kita lakukan, misalnya, di toko maya terbesar Amazon.com. Masalahnya, bagi sebagian orang, durasi setiap lagu yang hanya 30 detik tidak cukup memberi gambaran.
Tetapi kelimpahan itu — jika kita manfaatkan apa pun niatnya — akan menghadapkan kita pada satu keniscayaan: kapasitas hard disk yang terus-menerus harus ditambah (dengan membeli yang baru). Selain itu, waktu yang sempit membuat kita sulit menyimak semua yang bisa diperoleh hanya dengan mengklik tombol untuk mendownload. Kecuali kita hanya bekerja untuk mendengarkan dan menilai musik.
Saya sempat mengalaminya. Banyak album berdesak-desakan dalam hard disk yang sebagian besar belum pernah saya dengarkan. Di luar rumah, saya sudah mencoba untuk mengaktifkan iPod setiap kali ada waktu memungkinkan. Misalnya di mobil, jika suasana hati saya untuk menyopir sedang bagus, atau di kereta dalam perjalanan ke kantor.
Kenyataannya, waktu yang ada itu tak bisa mengakomodasi keperluan saya. Musik yang sudah saya simak pun tak banyak yang membekas.
Barangkali ada hal lain juga yang membuat kemampuan koneksi saya dengan musik-musik baru makin terbatas. Tapi yang jelas situasi itu menimbulkan ketidaknyamanan. Karenanya kini saya memutuskan untuk membatasi diri: hanya mencoba sesuatu yang benar-benar saya minati dan yang peluangnya besar untuk saya beli. Buat saya, produk fisik masih belum tergantikan.

Filed Under :
Menarik
by Hikma'S bLOgzz
Lebih mudah memadamkan api yang membakar sebuah rumah, ketimbang memadamkan api emosi di hati, benar tidak? Sepertinya memang benar, karena sekali saja api emosi berkobar wah rumah tetangga juga bisa tersambar.
Rasa jenuh, tekanan pekerjaan, rasa lelah memancing semua api emosi di dalam hati Anda. Berkobar semakin besar dan tak mudah dipadamkan. Jika sudah begitu, yah sebaiknya Anda belajar mengontrol diri, atau menemui psikolog untuk membantu Anda. Namun selain itu, ada cara lain yang dapat membantu memadamkan api-api kecilnya. Sekalipun tidak padam semua, setidaknya Anda masih dapat menarik nafas dalam-dalam dan kembali mengambil kontrol diri.
Beberapa makanan yang fungsinya memberikan ketenangan dan mendinginkan akan dibahas kali ini. Eit, bukan asal makanan dingin yang dimasukkan ke dalam lemari es yang dapat meredakan amarah Anda lho! Beberapa jenis makanan ini memiliki sifat dasar mendinginkan, menyegarkan dan menyeimbangkan kembali hawa panas pada tubuh Anda. Makanan ini mungkin tak dapat membuat Anda langsung tenang, namun efeknya berjalan merambat membekukan api emosi di dalam diri Anda. Tak berlama lagi, yuk kita lihat apa saja makanan lezat tersebut?
1. Aloe Vera alias si lidah buaya
Lidah buaya kali ini tidak akan menjadikan Anda santapannya, malahan Anda yang menyantapnya. Tersedia dalam bentuk kalengan, lidah buaya dapat dijadikan campuran es buah. Tak hanya kandungan vitamin E saja yang baik untuk kulit Anda, tetapi sifat dasar lidah buaya ini adalah makanan yang meredakan emosi. Membuat Anda merasa dingin dan nyaman. Api yang berkobar di dalam hati Anda pun perlahan mulai dibekukan olehnya.
2. Semangka
Tak peduli dalam bentuk jus atau buah segar, Semangka yang merah merona ini juga akan membantu Anda merasa lebih nyaman dan rileks. Emosi yang meluap-luap kembali diimbangi dengan rasa dingin dan segar yang merasuk pada tubuh Anda. Kaya akan vitamin C dan antioksidan, Semangka segar dapat menjadi pilihan makanan pemadam emosi Anda. Dengan catatan, jangan terlalu banyak mengonsumsinya, karena Semangka juga memiliki kemampuan menurunkan tekanan darah.
3. Cincau
Semua tahu si hitam yang biasa dipakai di dalam campuran es ini. Berasal dari daun-daunan merambat, seratnya yang tinggi akan membantu Anda memperlancar pencernaan. Tak hanya itu, sama halnya dengan makanan pemadam emosi lainnya, cincau juga menjaga keseimbangan emosi Anda. Tapi hati-hati memilih cincau ya, beberapa cincau yang dijual di pasaran memiliki kandungan pewarna yang tinggi, yang pastinya tidak akan memberikan efek sehat bagi Anda.
4. Selasih
Bagaikan ribuan telur katak di dalam gelas Anda. Memang jika sesekali diamati Anda akan bergidik, bahkan kadang terbayang ada ribuan mata yang sedang mengamati Anda dari sela-sela buah segar dan sirup manis yang merendamnya, itulah Selasih. Kali ini beberapa petani Selasih mengemasnya dalam plastik kemasan dan siap untuk Anda tambahkan pada es buah Anda. Selasih juga mampu memberikan efek nyaman, segar dan dingin pada Anda. Bahkan jaman dahulu, nenek moyang kita memanfaatkannya untuk mereka yang menderita sakit tenggorokan.
5. Agar-agar
Tak sama jika Anda memilih jelly yang kenyal dan menyenangkan. Agar-agar yang murni dari bahan alami hasil laut ini mungkin akan terasa sedikit membosankan. Tetapi jangan salah, makanan yang kaya akan vitamin E dan serat ini merupakan salah satu makanan hebat peredam emosi Anda. Juga memiliki sifat dingin, emosi Anda yang berapi-api akan luntur sedikit demi sedikit.
Jika api amarah sudah makin membesar, carilah tempat yang menenangkan Anda. Atau tak ada salahnya mengasah kemampuan me-mixed menu menjadi es buah lezat sekaligus menenangkan amarah di dalam diri.